oleh: Dr. Sahal Mahfudh, M.Pd. *
Kajen, 31 Maret 2026 — Dalam sebuah pisowanan para dosen IPMAFA ke kediaman KH Asnawi Rohmat, Pengasuh PP Al Roudhoh Kajen sekaligus masyayikh Perguruan Islam Mathali’ul Falah, disampaikan sejumlah dhawuh penting terkait arah dan ruh pendidikan, khususnya tentang peran sentral guru.
Dalam kesempatan tersebut, KH Asnawi Rohmat menegaskan bahwa dalam dunia pendidikan, aspek manajemen dan kurikulum memang memiliki posisi penting sebagai sistem penunjang. Namun demikian, yang paling menentukan keberhasilan pendidikan sejatinya adalah para pelaku utamanya, yakni guru dan dosen. “Dalam dunia pendidikan, manajemen dan kurikulum memang penting, namun yang lebih utama adalah peran praktisi—guru dan dosen—sebagai pelaku utama pendidikan,” dawuh beliau.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan figur yang digugu lan ditiru—dipercaya dan diteladani. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu menghadirkan keteladanan dalam sikap, perilaku, serta kehidupan sehari-hari. Keteladanan inilah yang seringkali lebih membekas dalam diri peserta didik dibandingkan sekadar transfer ilmu di ruang kelas.
Dalam penjelasannya, KH Asnawi juga mengutip dawuh KH MA Sahal Mahfudh yang secara konsisten mengingatkan para guru, khususnya di lingkungan Perguruan Islam Mathali’ul Falah, tentang pentingnya menata niat. Setiap awal tahun pelajaran, Mbah Sahal selalu mengajak para guru untuk meluruskan niat sebagai fondasi utama dalam mendidik. Niat yang benar, menurut beliau, akan sangat menentukan arah, kualitas, dan keberkahan proses pendidikan.
Mbah Sahal juga memberikan ilustrasi yang sederhana namun mendalam. Beliau menyampaikan bahwa proses mengajar itu ibarat menuangkan air ke dalam botol dengan ukuran yang berbeda-beda. “Setiap murid memiliki karakter yang berbeda, seperti botol dengan ukuran mulut yang tidak sama—ada yang lebar, ada yang sempit.” Dalam konteks ini, murid dengan kemampuan atau daya tangkap yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Murid yang “sempit” bukan untuk diabaikan, tetapi justru memerlukan kesabaran, ketelatenan, serta kebijaksanaan lebih dari seorang guru. Oleh karena itu, sifat sabar, arif, dan bijaksana menjadi kunci utama dalam proses pendidikan.
Lebih jauh, KH Asnawi Rohmat menegaskan bahwa tugas guru tidak berhenti pada aspek ta’lim (mengajar), tetapi juga mencakup tarbiyah (mendidik). Seorang guru harus mampu berperan layaknya seorang “bapak” yang memiliki kasih sayang (syafaqah) terhadap murid-muridnya. Dalam hal ini, guru memikul dua peran utama sekaligus, yaitu sebagai mu’allim (pengajar) yang mentransfer ilmu, dan sebagai murobbi (pendidik) yang membentuk karakter dan kepribadian. Kedua peran tersebut harus berjalan seiring agar pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara akhlak dan spiritual.
Dhawuh-dhawuh ini menjadi pengingat penting bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya persoalan sistem, melainkan proses pembentukan manusia yang sangat bergantung pada kualitas keteladanan dan keikhlasan seorang guru.
*Dr. Sahal Mahfudh, M.Pd. Sekprodi S2 Pendidikan Bahasa Arab IPMAFA




