Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Berita Terbaru

STUDI ISLAM DAN POLITIK DI PESANTREN; MENGAPA TIDAK?

Membangun Peradaban Harus Disertai Akumulasi Sumber Daya dan Mobilisasi Kapital

MPBA IPMAFA Terima Kunjungan Studi Banding STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Tingkatkan Kualitas, Dosen Magister PBA IPMAFA Adakan Ijtima’ Tansiqiy

Dirkamsel Korlantas Polri Bahas Program Keselamatan Berkendara di IPMAFA

LPM Analisa Hadiri Kopdar Kemenag: Penguatan Moderasi Beragama Melalui Pengelolaan Media Lembaga Kemahasiswaan
Share
WhatsApp
Facebook
Twitter

Redaksi IPMAFA – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Analisa Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) hadir dalam acara Kopdar Pengelola Media Lembaga Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang terselenggara di Hotel Santika Premiere Bintaro Senin – Rabu lalu (6-8/11/2023).

Hikmah Lailatul Kamalia, delegasi LPM Analisa IPMAFA menjelaskan Acara yang berlangsung selama 3 hari tersebut diikuti oleh 52 Lembaga Pers Mahasiswa dari berbagai daerah.

“Penguatan moderasi beragama untuk para mahasiswa menjadi alasan utama digelarnya acara ini, agar nantinya dalam postingan pers mahasiswa tidak ada unsur radikalisme, ekstrimisme dan anarkisme dalam mendakwahkan Agama Islam,” jelas Ketua LPM Analisa tersebut kepada Redaksi IPMAFA.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa baru merupakan sasaran bagi kalangan anti moderasi beragama, bisa lewat organisasi ataupun media sosial. Lembaga Pers Mahasiswa menjadi salah satu unsur untuk memerangi hal tersebut.

Kamal mengulas penjelasan Pemateri Wibowo Prasetyo bahwa Pers Mahasiswa harus memperkuat tata kelola media agar terindikasi baik, bukan hanya lembaga yang membangun dan mencerdaskan mahasiswa dengan tulisan.

“Pers harus mampu membangun iklim demokrasi kampus, menjadi kontrol sosial, profesional, dan penggerak kebaikan dalam moderasi beragama,” tutur Kamal menirukan ungkapan Staf Khusus Kementerian Agama Bidang Media & Komunikasi Publik tersebut.

Kamal juga menambahkan bahwa dengan digitalisasi yang semakin pesat, informasi semakin mudah didapat. Mahasiswa sebagai kader bangsa harus mampu memilah dan memilih informasi yang didapat.

“Mahasiswa dan pemuda harus mampu menyaring informasi dengan benar, filter nilai, gagasan, dan sintesis yang didapat, agar tidak terjebak dalam pemahaman yang ekstrem,” jelas Kamal.

Kamal memaparkan bahwa salah satu alasan mengapa mahasiswa baru dan kawula muda banyak termakan hoax tentang isu moderasi beragama adalah belum cukupnya pengetahuan dan wawasan tentang nilai kebangsaan dan kegamaan. Ditambah dengan pencarian di ruang digital yang salah.

“Kami berharap Lembaga Pers Mahasiswa harus mampu menjadi penggerak kebaikan dalam menyebarkan Islam yang rahmatallil alamin, menggaungkan moderasi beragama, menumbuhkan toleransi dan menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan literasi digital.” tandas Kamal. (Kamal.Red/Aen-02/Uha-01)