Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Berita Terbaru

STUDI ISLAM DAN POLITIK DI PESANTREN; MENGAPA TIDAK?

Membangun Peradaban Harus Disertai Akumulasi Sumber Daya dan Mobilisasi Kapital

MPBA IPMAFA Terima Kunjungan Studi Banding STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Tingkatkan Kualitas, Dosen Magister PBA IPMAFA Adakan Ijtima’ Tansiqiy

Dirkamsel Korlantas Polri Bahas Program Keselamatan Berkendara di IPMAFA

Sehari Ngaji Kepada Pak Dahlan Iskan (Bag. 3. Bagian terakir dari catatan) MERUNTUHKAN TEMBOK SAKRALITAS TEORI SOSIAL
Share
WhatsApp
Facebook
Twitter

Oleh: Dr. A. Dimyati, M.Ag*

Ada yang menarik pada saat pak Dahlan Iskan (DI) mengisi kuliah umum di Ipmafa, Sabtu 20 November kemarin. Di tengah-tengah orasi ilmiahnya, sebanyak tiga sesi Pak DI memanggil mahasiswa naik panggung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari beliau. Setiap sesi beliau memanggil 3 mahasiswa, tetapi selalu saja yang naik lebih dari tiga. Mungkin karena topiknya yang sangat relevan (entrereneurship) atau juga metode pak DI yang lebih menarik.

Pada tiga sesi itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Sesi pertama beliau meminta maju mahasiswa yang sudah memulai berwirausaha. Pertanyaan seputar usaha apa yang digeluti? Sudah jalan berapa lama, alasan apa yang mendorong berwirausaha. Sesi kedua pertanyaan yang diajukan tentang dari mana modal awal yang diperoleh. Sesi terakhir pak DI meminta khusus mahasiswa yang pernah ditipu orang lain pada saat menjalankan usaha? Bagaimana kronologinya? Apa yang dilakukan ketika sadar dirinya telah menjadi korban penipuan. Satu per satu mahasiswa menjawab dengan lancer semua pertanyaan.

Setelah sesi dialog, Pak DI menyampaikan statemen sederhana yang menyentak benak saya:

“Hari ini teori kewirausahaan telah runtuh. Teori yang mengatakan memulai bisnis menunggu mudal adalah salah. Teori bahwa kewirausahaan bisa diajarkan itu salah. Hari ini saya tidak mengajarkan bagaimana berwirausaha yang benar. Teman-teman kalian sendirilah yang mengajari bagaimana mereka telah menjadi wirausahawan” Kurang lebih seperti itulah yang beliau sampaikan.

***

Benarkah teori entrepreneurship telah runtuh? Apakah begitu mudah membongkar bangunan teori hanya berdasarkan testimony beberap orang, lalu digeneralisasi? Itulah sederet pertanyaan yang seketika muncul dibenak saya.

Tentu saja Pak DI tidak bicara filsafat ilmu. Beliau tidak sedang mengajarkan langkah-langkah penyusunan sebuah teori dan bagaimana mendekonstruksi teori. Teori dihasilkan dari sebuah prosedur ilmiah yang membutuhkan sejumlah langkah pembuktian, pengujian dan pertanggungjawaban secara ilmiah pula.  Apa yang disampaikan oleh Pak DI secara teknis lebih tepat disebut presumsi dan asumsi. Ketika Pak DI menyimpulkan bahwa entrepreneurship tidak bisa diajarkan berdasarkan jawaban dari mahasiswa yang beragam sesuai pengalaman masing-masing, tidak cukup dijadikan bukti kuat kebenaran pernyataan tersebut. Sebagian yang lain mungkin dapat diterima sebagai postulat atau aksioma, seperti kesimpulan bahwa berwirausaha tidak harus menunggu punya modal uang banyak. Pernyataan ini mengandung kebenaran dan tidak memerlukan pembuktian, sehingga bisa menghasilkan dalil-dalil turunan.

***

Sekali lagi Pak DI tidak sedang mengajar filsafat. Jadi, tidak relevan kalau pernyataan beliau dikritisi dari prosedur ilmiah. Meskipun begitu, saya menangkap bahwa itulah tamparan keras kepada dosen-dosen kewirausahaan/ entrepreneurship. Banyak yang masih mengajarkan secara textbook teori-teori entrepreneurship tanpa berusaha merefleksikan ulang dengan perubahan sosial. Padahal sebagai teori social, entrepreneurship bersifat dinamis. Kebenarannya bersifat formil yang berarti jika ada temuan baru yang bertentangan yang juga dihasilkan melalui prosedur ilmiah yang benar, bisa diterima sebagai teori yang baru. Lebih memprihatinkan lagi kalau ada yang mensakralkan teori-teori entrepreneursip dan menolak kebaruan terhadapnya.

Mengajarkan entrepreneurship (dan ilmu-ilmu sosial lain) bukan seperti menjelaskan kalau air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Teori ini baku, sunnatullah. Tetapi teori entrepreneurship dirumuskan berdasarkan pola pengalaman manusia yang mengalaminya. Pola sifatnya hanya garis besar yang berguna menarik kemiripan gejala menjadi sebuah pernyataan kebenaran yang bisa diterima. Oleh karena itu, belajar dari kritik Pak DI, sudah seharusnya dosen ilmu-ilmu sosial merubah cara berfikir. Harus selalu memandang kritis setiap teori yang dibaca dan diajarkan. Teori bukan ayat suci yang sacral. Weber, Marx dan ilmuwan social salinnya bukan nabi yang ma’shum. Pandangan mereka tidak untuk direprduksi begitu saja.

Pak DI mengajak agar kita semua berfikir secara kontekstual, tidak terpaku pada relativitas kebenaran teori. Sangat membekas pernyataan Pak DI ketika dimintai oleh “wartawan kampus” ipmafa agar memberi pesan kepada mahasiswa. Kata pak DI: “Saya orang yang tidak suka memberi pesan. Sebab mahasiswa memiliki zamannya sendiri. Pengalaman saya berbeda dengan pengalaman mereka”. Meskipun pada akhirnya beliau juga mmberi pesan he he..

Terimakasih Pak DI, atas ilmu, semangat dan inspirasinya. Saya sangat berharap dipertemukan kembali dengan panjenengan agar bisa menyerap lagi ilmu, pengalaman dan kebijaksanaan panjenengan. Insyaallah saya sudah punya 3 setel celana training dan beberapa potong kaos yang bis saya pakai untuk gabung senam bersama jamaah “Thariqah as-sanamiyyah ad-Dahlaniyyah”

(Pati, 21-11-21)

*Dr. A. Dimyati, M.Ag, Wakil Rektor I Bidang Akademik Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati.